SUKABUMI – Yuyum (36 thn) tampak asyik menata 140 potong pisang coklat dan molen di tampah yang dialasi koran itu. Setelah semua tertata rapih, sekitar pukul 06.00 pagi Yuyu segera membawa gorengan-gorengan itu ke warung tetangganya untuk nitip jual.

Untuk membuat gorengan sebanyak itu, Dia harus bangun pukul tiga dini hari untuk mulai menggoreng pisang coklat dan molen. Karena sudah terbiasa, Yuyum merasa ringan mengawali aktivitas dengan membuat gorengan. Bahkan Dia tersenyum lebar, saat melihat gorengan yang dijual Rp500 per potong ini selalu habis terjual.

“Alhamdulillah dalam satu hari gorengan selalu habis,” ujar Yuyum saat ditemui di rumahnya di Kampung Pasir Awi Girang, Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi ini.

Yuyum mengatakan, Dia harus bekerja keras untuk membantu perekonomian keluarga. Karena selama ini, Oman (39 thn), sang suami hanya bekerja sebagai buruh bangunan yang hanya bekerja jika ada orderan. Menurutnya, dalam setahun sang suami hanya evektif bekerja selama enam bulan. Selebihnya menganggur.

“Kalau nggak bantu suami, bagaimana nasib sekolah anak-anak?,” tegas ibu berkacamata ini.

Semangat untuk menyekolahkan kedua anaknya kejenjang yang lebih tinggi inilah yang menjadi motivasi Yuyum untuk terus mencari usaha tambahan. Diungkapkannya, dulu Dia ingin melanjutkan sekolah ketingkat SMP, bahkan Dia sampai menangis minta disekolahkan. Namun orang tuanya tidak mampu membiayai. “Saya ingin anak-anak terus bisa sekolah, sehingga masa depannya lebih baik,” kata Yuyu.

Selain rajin membuat usaha gorengan, Yuyum juga aktif dilingkungan desanya. Pada Hari Ibu lalu, Dia bersama tim PKK menggerakkan ibu-ibu di desanya untuk mengikuti senam sehat dan jalan santai Se-Kecamatan Kalapanunggal. Kemudian, Dia juga aktif di Posyandu di desanya, setiap tanggal 26, Dia datang ke Posyandu untuk melayani ibu-ibu desa yang akan menimbangkan anak-anaknya. Dari keaktifannya di Posyandu, tiap enam bulan Yuyum diberi uang insentif sebesar Rp100 ribu. “Gaji nggak seberapa, yang penting bisa buat ibadah.”

Prinsip Yuyum, Dia akan bekerja apa saja yang penting halal dan berkah. Karena itu, saat mendengar ada program pemberdayaan peternak di desanya dari Kampoeng Ternak Dompet Dhuafa, dengan berbekal semangat mencari usaha tambahan, Dia segera mendaftar diri, tak peduli meski seorang perempuan. Karena biasanya, tugas memelihara ternak kebanyakan dilakukan oleh laki-kali.“Alhamdulillah saya lulus seleksi, dan menjadi mitra Kampoeng Ternak sejak April 2011,” jelas Yuyum.

Yuyum menambahkan, dengan bertambahnya amanah, Dia harus pintar membagi waktu. Untuk membuat gorengan dan mengurus rumah dimulai pukul 03.00 hingga pukul 06.00 WIB, setelah itu Dia langsung mencari rumput di kebun kelapa sawit di daerah Cidahu hingga pukul 13.00 WIB, sekitar enam jam Yuyu bisa menghasilkan tujuh karung rumput.

Selama lima bulan memelihara ternak domba, Dia mendapat keuntungan Rp1.814.000 dari hasil penjualan 10 ekor domba.

Walau sibuk, setiap hari Kamis, Yuyum selalu menyempatkan diri untuk mengikuti pembinaan dengan Pendamping Program. Dalam pertemuan ini, Yuyu dan mitra binaan lainnnya mendapat ilmu cara beternak yang baik, juga diajari manajemen keuangan dan sebagainya.

“Saya sangat senang mengikuti kegiatan ini, karena menambah wawasan dan programnya juga bisa membantu perekonomian keluarga,” imbuh Yuyum. [cip]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here