Peternak gurem adalah sebuah istilah yang sangat populer untuk menyebut peternak dengan ternak sangat sedikit yang akan habis sekali jual dan setelah dijual hanya meninggalkan 1 -2 ekor saja dikandang, bahkan terkadang tidak meninggalkan ternak sama sekali untuk dipelihara setelahnya. Disebut gurem karena sesuai dengan ukuran binatang gurem yang dalam bahasa jawa adalah binatang yang sangat kecil ukuranya. Dan kondisi mayoritas peternak di Indonesia terkategori dalam istilah gurem ini.

Hampir semua peternak gurem ini berasal dari kalangan ekonomi lemah. Jumlah ternak yang dipelihara hanya 1-2 ekor sapi per keluarga atau 1-5 ekor kambing dan domba, bahkan ada yang hanya memelihara unggas 1-10 ekor saja. Dengan jumlah pemeliharaan yang sangat sedikit, hampir dipastikan tidak bisa dijadikan sumber penghasilan pokok keluarga, yang bisa hanya sebagai penghasilan sampingan atau tambahan keluarga.

Ketidakmampuan peternak gurem ini, selain dari keterbatasan ekonomi juga karena banyak faktor yang membuat mereka tetap menjadi gurem dari generasi ke generasi, seperti rendahnya tingkat pendidikan, lemahnya arus informasi, tidak adanya keinginan untuk merubah nasib karena merasa sudah nyaman dengan kondisi saat ini, pengaruh lingkungan, tidak yakin dengan potensi yang dimiliki dan berbagai sebab lainya.

Pemberdayaan peternak sebagai salah satu kegiatan untuk meningkatkan keberdayaan peternak pasti akan memilih peternak-peternak gurem ini sebagai sasaran program. Peternak gurem memenuhi segala syarat sebagai sasaran pemberdayaan, hal itu akan sangat mudah mengevaluasi keberhasilan program dengan tolok ukur yang sudah pasti rendah baik dari pendapatan ekonomi, pendidikan, dan tolok ukur lain. Selain itu, peternak gurem akan sangat mudah ditemukan dalam satu wilayah tertentu dan hal ini akan memudahkan pengontrolan dalam proses pemberdayaan, sehingga proses pemberdayaan dapat dilakukan di satu lokasi saja dan bukanya terpisah-pisah domisili masyarakat sasaran.

Namun dalam proses pemberdayaan yang dilakukan, sering terjadi kegagalan program berupa habis atau hilangnya modal awal, tidak terjadinya perubahan di masyarakat sasaran, masyarakat sasaran masih tetap miskin secara ekonomi dan mental, atau kondisi sebelum dilakukan pemberdayaan dengan kondisi setelah pemberdayaan seolah tidak ada bedanya sama sekali. Dengan kata lain ada atau tidak adanya pemberdayaan di suatu wilayah sama saja hasilnya, sehingga peternak gurem akan selamanya menjadi gurem.

Dari beberapa pengalaman pemberdayaan, bisa diambil kesimpulan mengenai beberapa sebab kegagalan pemberdayaan yang dilakukan antara lain adalah tidak terjadinya perubahan pemikiran di masyarakat sasaran, sehingga masyarakat memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap program pemberdayaan dengan harapan akan selamanya dimanjakan dengan berbagai pemberian dana dan segala sumber daya yang selama ini sering mereka terima.  Sedangkan tujuan dari pemberdayaan adalah menghilangkan segala ketergantungan kepada pihak lain, sehingga masyarakat sasaran mampu berdaya secara mandiri dari segala aspek.

Sedangkan perubahan secara ekonomi dari masyarakat hanyalah sekedar penampakan fisik hasil pemberdayaan yang tidak bisa kita jamin keberlangsungannya apabila ketergantungan masyarakat sasaran kepada program masih tinggi, sehingga ketika ditinggalkan program maka masyarakat akan kehilangan segala sumberdaya yang dimiliki tanpa mampu mencari lagi secara mandiri. Banyak kasus pemberdayaan yang dianggap sukses dari sisi peningkatan ekonomi ketika ditinggalkan oleh program pemberdayaan akan segera kembali ke kondisi awal sebelum program ada, dengan kata lain akan kembali menjadi tidak berdaya.

Tidak adanya pendampingan program juga menjadi sebab lain dari kegagalan pemberdayaan. Dari sebagian besar dana bantuan yang bergulir di masyarakat, banyak terjadi kegagalan karena tidak adanya proses pendampingan setelah digulirkan BLM (Bantuan Langsung Masyarakat), bahkan sering terjadi ditinggalkan begitu saja oleh pelaksana program. Sedangkan untuk pelaporan biasanya hanya sebuah formalitas yang dilakukan tanpa dukungan data nyata di lapangan.

Pelepasan dana ke masyarakat tanpa pendampingan akan memanjakan masyarakat dengan berbagai bantuan, jika hal ini berlangsung terus menerus maka akan membentuk persepsi masyarakat bahwa setiap bantuan akan dilepas begitu saja oleh pihak pemberi bantuan atau bersifat hibah. Jika sudah terjadi persepsi seperti ini maka dihasilkan masyarakat ‘peminta-minta’. Dan untuk merubah masyarakat peminta ini menjadi masyarakat berdaya akan memerlukan energi yang sangat besar.
Tidak terjadinya proses kontrol dan saling mengingatkan dari seluruh stake holder terlibat juga menjadi sebab lain kegagalan pemberdayaan. Sudah menjadi persepsi bagi pihak pelaksana program bahwa pemilik program menentukan segala kebijakan pemberdayaan, sehingga jalanya program harus mengikuti apa yang sudah ditetapkan di awal program.

Akan tetapi, dalam pelaksanaan sering terjadi pengelola program menjalankannya seorang diri tanpa melibatkan masyarakat sekitar obyek program, aparat terkait bahkan kebijakan pemerintah lokal. Sikap menjadi ‘superman’ ini justru akan mengurangi keberhasilan program terutama terkait dengan dinamika masyarakat yang tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh lingkungan. Sehingga melibatkan seluruh stake holder di sekitar masyarakat adalah suatu hal yang tidak bisa ditinggalkan, dengan demikian proses saling mengingatkan dan kontrol dapat berjalan dengan baik untuk keberhasilan pemberdayaan masyarakat. Dan beberapa sebab lain yang dapat menghambat proses pemberdayaan masyarakat menuju masyarakat berdaya yang mandiri secara ekonomi maupun mental.

Demikianlah beberapa sebab kegagalan pemberdayaan masyarakat yang harus dipahami dan dihindari bersama, sehingga tujuan menjadikan peternak gurem menjadi peternak gajah dapat diwujudkan tanpa mematikan gurem-gurem yang lain, sehingga gurem-gurem tersebut dapat berkembang menjadi gajah-gajah yang lain. # [Sholeh Amin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here