Upaya untuk swasembada daging terus saja didengungkan, namun arah peternakan yang lebih baik masih jauh dari harapan. Teruslah lakukan yang terbaik  merupakan jawaban optimisme. Daging merupakan sumber protein hewani yang kontribusinya dalam memenuhi kebutuhan konsumen nasional baru mencapai sekitar 23 %, ternak kambing merupakan salah satu jenis ternak ruminansia yang memiliki keunggulan mudah pemeliharaannya dan cepat berkembang biak sehingga dapat menghasilkan produksi daging sebagai subtitusi dan dapat berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan petani peternak di pedesaan.  Salah satu usaha untuk mencapai swasembada daging adalah dengan membudidayakan kambing Boerka.

Kambing Boerka adalah kambing hasil perkawinan silang (Cross Breeding) antara kambing Kacang dan Kambing Boer. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki performan kambing di Indonesia baik dari sisi bobot lahir, laju pertumbuhan, bobot maksimum dan kualitas daging yang dihasilkan.

Kambing Kacang adalah salah satu kambing lokal Indonesia dengan populasi yang cukup banyak dan tersebar luas. Salah satu kelebihan kambing Kacang adalah mampu beradaptasi pada lingkungan yang kurang baik. Namun kambing ini mempunyai ukuran tubuh yang relatif kecil dan laju pertambahan bobot hidup yang relatif rendah (SETIADI et al., 2001),  dengan bobot dewasa pada jantan dan betina masing-masing 25 dan 20 kg (DEVENDRA dan MCLEROY 1982). sementara Kambing Boer dianggap kambing unggul penghasil daging terbaik, merupakan kambing yang berasal dari negara Afrika Selatan namun sudah banyak diternak di beberapa daerah di Indonesia. Kambing Boer merupakan kambing pedaging sejati karena pertumbuhannya yang sangat cepat dan perawatannya yang mudah. kambing Boer jantan dewasa berumur 2-3 tahun dapat mencapai bobot antara 110-135 kg, dan kambing Boer betina dewasa antara 90-100 kg. Dengan laju pertambahan bobot hidup harian berkisar antara 203 – 245 g (ERASMUS, 2000). Jika kambing Boer dikawinkan dengan kambing betina lokal, baik secara alami atau dengan inseminasi buatan, hasil persilangannya (F1) yang memiliki 50% Boer sangatlah mengagumkan. Keturunan F1 ini akan membawa kecenderungan genetik yang kuat dari Boer. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa persilangan kambing Boer dengan Kacang memberikan peningkatan 27% pada bobot lahir  dan 50 sampai 70% pada bobot sapih (SETIADI et al., 2001)

Kawin silang (crossbreeding) merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas ternak secara cepat. Melalui cara ini, telah dihasilkan kambing unggul Boerka, hasil persilangan pejantan Boer (tipe pedaging) dengan induk kambing Kacang (tipe prolifik, beranak banyak). Kambing hasil silangan ini lebih unggul dibanding kambing lokal, yaitu pertumbuhannya cepat dan bobot tubuhnya lebih besar. Daya adaptasi terhadap lingkungan tropik-basah pun sangat baik. Dari hasil penelitian ini Usaha ternak kambing boerka di Indonesia memperoleh banyak peminat karena prospeknya yang sangat bagus.

tabel berikut ini memperperlihatkan perbedaan yang signifikan antara kambing boerka dan kambing kacang.

Tabel  Bobot tubuh kambing Boerka dan kambing Kacang umur 3-18 bulan.

Umur (bulan)

Bobot tubuh (kg)

Jantan

Betina

Boerka

Kacang

Boerka

Kacang

0 (lahir)

2.2-2,8

1,5-2,0

2,0-2,6

1.4-1,7

3

9-15

6,7-8,7

8-12

6,4-7,8

6

16-22

12-16

14-18

11-14

9

21-24

14-17

15-19

13-15

12

26-32

14,7-20,0

18-26

14,7-18,0

18

28-36 20-24 20-28 16-21
>18 38-50 22-30 28-38

18-24

 

Kambing Boerka rata-rata meliliki bobot lahir 42% lebih berat dibanding kambing kacang. Bobot lahir anak jantan cenderung lebih tinggi dibanding anak betina (lihat label ). Sejak disapih (umur 3 bulan) hingga dewasa(> 18 bulan), bobot tubuh kambing Boerka jantan rata-rata lebih tinggi 36-45% i untuk Boerka betina lebih tinggi 26-40% dibanding Kambing Kacang. Pada umur 12-18 bulan, kambing Boerka jantan mencapai bobot tubuh 26-36 kg atau memenuhi persyaratan ekspor. Dengan demikian, kambing Boerka berpotensi dikembangkan secara komersial untuk tujuan ekspor.

Tingkat pertumbuhan anak kambing Boerka prasapih rata-rata 118 g/hari, jauh lebih tinggi dibanding anak kambing Kacang yang hanya 52-70 g/hari. Laju pertumbuhan kambing Boerka selama pascasapih juga lebih tinggi dibanding kambing Kacang. Pada umur 3-6 bulan, misalnya, laju pertumbuhan kambing Boerka lebih tinggi rata-rata 42% dibanding kambing Kacang. Laju pertumbuhan yang lebih tinggi memungkinkan kambing Boerka mencapai bobot potong pada umur yang lebih muda.

Karkas kambing Boerka lebih baik dibanding kambing Kacang, namun kandungan nutrisi maupun sifat fisik relatif sama. Mutu karkas kambing Boerka termasuk mutu I, sama dengan kambing Kacang. Daging agak lembap, tekstur lembut dan kompak, warna merah khas daging, lemak panggul tebal, dan bau spesifik. Dengan karakteristik seperti itu, daging kambing Boerka akan diterima konsumen seperti halnya daging kambing Kacang.

DEVENDRA dan BURNS menganjurkan bahwa hewan betina muda jangan dikawinkan sampai mereka mencapai berat tertentu (paling sedikit dua pertiga dari bobot badan dewasa). Karena di khawatirkan bila dibiakkan ketika masih terlalu kecil pertumbuhan seterusnya akan terhambat, yang akan berpengaruh buruk terhadap: kepribadian, berat dan daya hidup anak-anaknya.  dalam menentukan waktu dewasa kelamin, berat badan lebih penting dari umur,  Oleh karena itu ternak yang tumbuh cepat akan mencapai pubertas lebih awal. Ditunjang oleh teori yang dikenal dengan nama target weight theory, yaitu seekor ternak akan mencapai pubertas atau aktivitas produksi dapat berlangsung secara normal jika telah mencapai bobot badan tertentu.

Sumber : litbang.pertanian.go.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here